.Sutan Sjahrir Portrait.
-Friday, September 16, 2005-

Sutan Sjahrir adalah nama yang dicuplik ibunya dari kegermelapan kisah Seribu Satu Malam di Istana Baghdad. Tapi kehidupan Sjahrir justru getir dan kelam, sehitam belangga. Dialah orang yang paling jenius dalam pergerakankemerdekaan Indonesia.
Hanya bermain di belakang gemebyar Soekarno dan memimpin pergerakan di Bandung, Amsterdam, dan Leiden, jiwanya menjadi matang.
Dialah pengelana yang hidup untuk kampung halaman: pribadinya matang dalam tempaan cita-cita kemerdekaan.

Menghabiskan 8 tahun dalam penjara kolonial dan pembuangan, 3 kali menjadi Perdana Mentri di rezim Soekarno, tapi saat meninggal, Sjahrir justru berstatus tahanan politik, dari sebuah bangsa dengan darah dan air mata yang ia perjuangkan.

Dialah Don Quixote, sekaligus Kafka; sendiri, pedih, getir, tapi amat mencintai sesamanya atas dasar kemanusiaan. Tak heran, pada hari penguburannya 18 April 1966, jasadnya yang baru datang dari Zurich, disambut 250 ribu massa, yang mengelu-elukannya dalam tangis mengantar bunga ukacita ke kalibata. Helikopter berputar, meraung, menabur wewangian kembang, tembakan salvo pun menggelegar, mengiringi jasad ringkih, pucat, tapi tersenyum turun ke liang lahat.

Pemerintah menginstruksikan mengibarkan bendera setengah tiang, tiga hari, tanda duka, dan jasad yang kering itu pun dibabtis menjadi pahlawan nasional.

Tapi apakah arti upacara itu? Adakah kemeriahan penghormatan dan anugrah itu dapat mengobati luka Sjahrir yang lebih membutuhkannya di hari-hari panjang yang dingin, pengap, meringkuk sakit, sendiri, sepi di sebuah penjara di Jakarta. Hidup Sjahrir mungkin sebuah biografi yang tak indah. Tapi siapa yang bisa melepaskan namanya dari triumvirat Bung, pendiri negara ini? Dalam tahap ini, jelas, Sjahrir berarti, sangat berarti.

Dia berjuang untuk memerdekakan negara ini dengan konsep yang ganjil, tentang nasionalisme. Nasionalisme bagi si Bung berdarah Minang ini bukanlah dewa. "Nasinalisme hanyalah kendaraan yang kita pakai saat ini, untuk memerdekakan diri," ucapnya.

"Sjahrir adalah burung kelana yang mendahului terbang melebih batas-betas nasionalisme. Ia adalah seorang tokoh terbesar dalam kebangkitan Asia," puji Indonesianis, Herbert Feith.

"Perjalanan Hidup Sjahrir," tulis Rudolf Mrazeck dalam Sjahrir: Politik dan Pengsingan di Indonesia, adalah getrak universalisme dari suatu tradisi sempit. Dia tak pernah membawa bau tradisional, primordial, atau parokial. Ia secara jujur mengaku, tak punya hubungan batin dengan dunia Minang."

Dalam posisi itu Sjahrir amat berbeda dengan Soekarno, Hatta bahkan Tan Malaka. Sjahrir adalh anak panah, melesat dari busurnya, tak pernah kembali.

Seperti pemimpin pergerakan lainnya, Sjahrir adalah buah dari politik etis, Van Deventer. Ia lahir di PadangPanjang, Sumatra Barat, 5 maret 1909, dan dewasa di Medan. Di kota itulah jiwa muda Sjahrir sudah kenyang melihat penderitaan kaoem koeli, bukti ekspliotasi kolonialisme.

Dia mengenyam sekolah dasar (ELS) dan sekolah menengah (MULO) terbaik di Medan, dan membtahkan bergaul dengan pustaka dunia, karya-karya Karl May, Don Quixote, dan ratusan novel-novel Belanda. Malamnya ia ngamen di Hotel De Boer, htel khusus kulit putih, kecuali musisi dan pelayan.

1926, ia selesai dari MULO, masuk sekolah lanjutan tingkat atas 9MS) di Bandung, sekolah termahal di Hindia Belanda saat itu. Di sekolah itu ia bergabungdalam Himpunan Teater Mahasiswa Indonesia (Batovis) sebagai sutradarra, penulis skenario juga aktor. Hasil pentas itu ia gunakan untuk membiayai sekolah yang ia dirikan, Tjahja Volkuniversiteit, Cahaya Universitas Rakyat.

Sebelum Soekarno membentuk Perserikatan Nasinal Indonesia, 4 Juli 1027, Sjahrir telah membentuk Jong Indonesie, yang kelak menjadi Pemoeda Indonesia. Ini organisasi baru yang jauh dari warna kesukuan dan ia menjadi pemimpin redaksi organisasi itu.

Kuliah hukum di Amsterdam, Sjahrir berkenalan dengan Salomon Tas, ketua klub Mahasiswa Demokrat. Dan istrinya Maria Duchateau, yang kelak Sjahrir kawini walaupun hanya sebentar.

Dari mereka Sjahrir mengenal Marxisme, dan melalui Hatta, dia masuk Perhimpunan Indonesia. Bersama Hatta, keduannya rajin menulis di Daulat Rakjat, majalah milik pendidikan Nasional Indonesia, dan memisahkan pendidikan rakyat harus menjadi tugas utama pemimpin politik.

"Pertama-tama marilah kita mendidik, yaitu memetakan jalan menuju kemerdekaan."

Tulisan-tulisan Sjahrir berikutnya, terutama dalam manifestonya, Perjuangan Kita, membuatnya tampak bersebrangan dan menyerang Soekarno. Jika Soekarno amat terobsesi pada persatuan dan kesatuan. Sjahrir justru menulis "Tiap persatuan hanya akan bersifat taktis, temporer, dan karena itu insidental. Usaha-usaha untuk menyatukan secara paksa, hanya menghasilkan anak banci. Persatuan macam itu akan terasa sakit, tersesat, dan merusak pergerakan."

Dan ia mengecam Soekarno. "Nasionalisme yang Soekarno bangun di atas solidaritas hierarkis, feodalistis: sebenarnya adalah fasisme, musuh terbesar kemajuan rakyat dan dunia." Dia juga yang mengejek gaya agitasi masa Soekarno yang menurutnya tak membawa kejernihan.

Perjoeangan kita adalah karya terbesar Sjahrir, kata Salomo Tas, bersama surat-surat politiknya semasa pembuangan di Boven Digul dan Bandaneira. Manuskrif itu disebut Indonesianis Ben Anderson sebagai,"Satu-satunya usaha unutk menganalisa secara sistematis kekuatan domestik dan internasional yang mempengaruhi Indonesia dan memberikan perspektif yang masuk akal bagi gerakan kemerdekaan di masa depan."

Pujian yang tak berlebihan. Karena melalui Partai Sosialis Indonesia yang melahirkan Soejatmoko, Sultan Takdir Alisjahbana, dan Chairil Anwar, jejak-jejak Sjahrir sampai kini masih terasa, kuat, masih menggelora. (Aulia A Muhammad, suaramerdeka.com)

Mi Comment :
Aku blom lahir waktu eyang meninggal, apalagi waktu eyang masih hidup. Aku juga tentunya nga melihat langsung kehidupan eyang, mulai dari eyang masih di Sumatra, sampai menjadi tahanan pulau di Bandaneira bersama Hatta dan Chairil Anwar. Aku juga baru tahu kalo Chairil Anwar itu kenal sama eyang.
Waktu itu aku pernah dateng ke salah satu pameran Linggarjati di Kedutaan Belanda. Di situ ada foto-foto sebelum dimulai perjanjian, ada yang pas eyang lagi maen tenis. Betapa santainya dia menjalani hidupnya.

hahaha,
Tapi pas akhir-akhirnya Soekarno mempercayai PKI bahwa eyang menentangnya sehingga mengirimkan eyang ke penjara, di sana muali sakit, lalu Soekarno yang merasa bersalah mengirim eyang ke Swiss, di sana eyang pengobatan. Tapi rupanya penyakitnya sudah terlalu parah dan akhirnya meninggal di sana. meninggalkan 2 anak-anaknya yang masih kecil berumur 10 dan 7 tahun.

Lepas dari cerita tentang Sutan Sjahrir, akhirnya aku ngerti kejamnya keadaan saat itu. Akhirnya aku ngerti untuk apa ada pelajaran Sejarah di sekolah. Agar anak-anak jaman sekarang menghargai bangsanya sendiri, agar mereka tahu bahwa bangsa ini tidak ada dengan mudah tak hanya dengan membalik tangan.
Yang membuat aku sangat mengerti adalah trauma yang didapatkan dari anak-anaknya eyang, which is my aunty and my father. Aku bisa ngeliat dampaknya bagi mereka, sebagai anak-anak yang lahir dari seorang ayah yang menyita waktunya untuk pekerjaannya, anak-anaknya baru bisa benar-benar dekat dengan ayahnya selama di Swiss sekitar 4-5 tahunan.

pondered at
at |9:58 PM|
|=====================================================|

|P R O F I L E|


Sutan Sjahrir
Sjahrir had been a leading 
figure in the independence 
movement in the 1930s, 
and had spent time 
in the Boven Digul 
concentration camp. 

He organized the governments 
of the new Republic in 1945-1947, 
and spent a great deal of energy 
in negotiations with the Dutch. 

To some, Sjahrir was a respectable 
voice of moderation with an educated, 
Western outlook on things. 
In his time, he was criticized 
both by Communists and by Army nationalists 
for being allegedly "pro-Dutch". 
(Among other things, 
Sjahrir had married a Dutch woman 
when he was a young student 
in the Netherlands.) 

Conversely, Sjahrir was a critic of 
those who he felt had worked too 
closely with the Japanese, 
implicitly criticizing Sukarno as well. 

Soetan Sjahrir [Sutan Sjahrir]
basically is moi grandfather,
not moi grand-grandfather,
Banyak orang nga percaya, 
kalau Sutan Sjahrir 
adalah Eyang langsung Kanya.

Secara luas, Soetan Sjahrir 
adalah pahlawan nasional Indonesia
banyak hasil-hasil tulisannya 
yang menjadi inspirasi bagi orang lain.

Kepribadiannya Kolerik-Sanguin, 
di pelajaran sejarah 
Soetan Sjahrir disebut 
sebagai wakil Indonesia 
dalam perjanjian Linggarjati

|L I N K S|

:Bloggers:

*kNya StiRa's WeBBie

:Archives:

  • September 2005
  • Visitors
    mOi BLoG'S coUnTeR

    JANGAN ASAL COPY PASTE..